Total Tayangan Halaman

Jumat, 07 Oktober 2011

Pendidikan di Mata Orang Jepang

PENDIDIKAN INDONESIA VS JEPANG


November 2010 tepatnya sehabis makan siang, saya diberitahu oleh Kepala Sekolah kami bahwa akan mengadakan pendampingan pengenalan budaya Indonesia kepada teman-teman yang mengikuti The 37th Ship for South East Asia and Japan Youth Program@. Saya diminta menyiapkan 3 anggota pengurus OSIS dari Sekolah kami untuk program tersebut. Kegiatan tersebut diadakan hari Sabtu 27 November 2010.  Sabtu pagi, 27 November 2010 – Sabtu yang sebenarnya saya harapkan bisa beristirahat di rumah karena 7 kali Sabtu yang sebelumnya saya mendampingi anak-anak OSIS di berbagai kegiatan, termasuk Charity Program ke daerah Merapi – kami berkumpul di Sekolah untuk menyambut teman-teman yang berasal dari Jepang, Laos, Vietnam dan Singapore. Seperti biasa, kami memulai aktivitas dengan berkenalan dan kemudian mengadakan Campus Tour.
Setelah perkenalan dan Campus Tour, kami berangkat menuju Taman Mini Indonesia Indah. Sebuah tempat di daerah Jakarta Timur yang cukup representative untuk mengenalkan berbagai budaya yang ada di Indonesia. Kami sempat mengunjungi berbagai anjungan dan menyaksikan film tentang budaya Indonesia di Keong Mas Cinema. Setelah lelah menikmati Taman Mini, kami menikmati makan siang di area sekitar Keong Mas.
Perut sudah kenyang, tenaga kembali pulih dan perjalanan kami lanjutkan ke JCC (Jakarta Convention Centre) dimana Inacraft exchibition diadakan. Beberapa eman sempat bingung karena sejak TMII mereka belum menemukan Money Changer. Setelah beberapa menit mencari di area JCC, akhirnya kami menemukannya. Dan teman-teman bisa segera menyalurkan hasrat belanjanya untuk membeli barang-barang khas Indonesia. Kami membagi tugas untuk mendampingi teman-teman yang berasal dari negara lain sambil mengenalkan beberapa budaya yang ada. Beberapa dari kami juga membantu melakukan penawaran harga barang bagi peserta program yang notabene tidak bisa berbahasa Indonesia. Kegiatan kami di JCC berakhir pada pukul 07.50 dan kami harus kembali ke Sekolah. Beberapa teman peserta langsung dijemput oleh orang tua angkat mereka.
Yang menarik dari kegiatan yang saya alami adalah ketika berkenalan dengan teman-teman yang dari Jepang. Ketika saya mengatakan bahwa saya adalah  guru fisika di SMA Global Prestasi, mereka langsung menundukkan badan secara spontan hingga sekitar 900. Sebuah symbol bahwa budaya Jepang sangat menghormati seorang guru. Pun dengan teman yang dari Laos. Saya mengenali dia sebagai orang yang kidal selama trip kami. Saya melihat dia membayar dengan tangan kiri dan bersalaman dengan murid-murid anggota OSIS pun dengan tangan kiri. Tetapi ketika hendak bersalaman dengan saya, dia bergegas mengganti tangannya dengan tangan kanan sambil sedikit membungkukkan badan. Bagi saya. Itu adalah pengalaman yang luar biasa, dimana kepercayaan diri saya sebagai guru bertambah karena merasa sangat dihargai.
Ketika pengalaman langka ini kubagi dengan salah satu teman gereja yang pernah tinggal di sana (waktu menempuh program pasca sarjana dan post doctoralnya), dia lantas menceritakan bahwa itu sudah menjadi kebiasaan bagi mereka. Kebiasaan mereka untuk menghormati orang yang ditemuinya adalah dengan membungkukkan badan. Semakin dalam membungkuk, berarti semakin dihormatilah orang yang ditemui tersebut. “Memang mereka sangat menghormati guru, dosen dan dokter karena itu Negara Jepang menjadi Negara maju”, kata teman saya tersebut. Wah, ternyata Jepang sebagai Negara maju masih sangat menghormati guru, dosen dan dokter. “Lalu bagaimana dengan Indonesia?”, gumulku…..


Tidak ada komentar:

Posting Komentar