The Art of Managing Life
Blog untuk berbagi ilmu
Total Tayangan Halaman
Jumat, 27 April 2012
Jumat, 14 Oktober 2011
Catatan Seorang Guru
GURU DAN BANGSAKU
Oleh Iman Safari, S.Pd
Sampai sekarang, profesi guru memang dianggap profesi yang kurang bergengsi dan mungkin agak dihindari. Selain harus bersusah diri mempersiapkan materi dan meng-upgrade diri, guru juga harus bergumul berat demi mencukupkan kebutuhan diri. Meski beberapa guru cukup kreatif untuk bisa mendapatkan insentif dari memberikan bimbingan belajar yang intensif. Ya...itulah profil guru di negeri ini, negeri yang konon katanya gemah ripah loh jinawi. Tetapi, kenapa ada orang yang masih mau menjadi guru?
Di negara lain seperti Jepang, Australia dan di Benua Eropa, profesi guru tidaklah seburuk yang ada di negara kita. Selain sangat dihormati, mereka juga memperoleh kompensasi yang jauh lebih tinggi dibanding di negeri kita ini. Pak Susilo, Direktur Trend Indonesia pernah bercerita bahwa ketika temannya dari Australia kehilangan Passport, dia diharuskan meminta surat rekomendasi dari dokter dan guru. Dari dokter diperlukan untuk memastikan orang yang kehilangan passport dalam kondisi sehat jasmani dan rohani,. Dari guru karena ada anggapan bahwa guru tidak bisa disuap untuk melakukan manipulasi. Selain itu ada anggapan logis kenapa harus dari guru dan dokter. Jika dokter mau melakukan kebohongan, maka negara tersebut tidak akan sehat kondisinya. Jika guru mau melakukan kebohongan, maka generasi muda mereka tidak akan semakin maju. Bagaimanakah dengan negara kita?. Di negara kita, sangatlah berbeda. Melakukan manipulasi seolah-olah tidaklah dosa. Itu makanya bangsa ini tidaklah segera beranjak menjadi lebih baikYa...guru memanglah dituntut untuk mengajar dan sekaligus mendidik siswa-siswinya sehingga dapat unggul di ranah otak dan watak. Itulah beratnya menjadi guru. Dan itu makanya tidak setiap orang terpanggil menjadi guru, karena menjadi guru adalah sebuah panggilan. Karena jika memang bukan panggilan, maka beberapa orang tidak akan setia melakukan kewajiban. Satu lagi, jika menjadi guru memang harus bertarung dengan masalah ekonomi, tetapi saya yakin setiap guru akan hidup dengan cukup[i] dan tidak akan kekurangan.
[i] definisi cukup bagiku adalah bila aku bisa mengaktualisasikan kompetensiku dengan baik tanpa terganggu tugas-tugas tambahan yang terlalu berlebihan dan malah lebih dominan dari tugas sejatiku sebagai guru
Jumat, 07 Oktober 2011
Pendidikan di Mata Orang Jepang
PENDIDIKAN INDONESIA VS JEPANG
November 2010 tepatnya sehabis makan siang, saya diberitahu oleh Kepala Sekolah kami bahwa akan mengadakan pendampingan pengenalan budaya Indonesia kepada teman-teman yang mengikuti The 37th Ship for South East Asia and Japan Youth Program@. Saya diminta menyiapkan 3 anggota pengurus OSIS dari Sekolah kami untuk program tersebut. Kegiatan tersebut diadakan hari Sabtu 27 November 2010. Sabtu pagi, 27 November 2010 – Sabtu yang sebenarnya saya harapkan bisa beristirahat di rumah karena 7 kali Sabtu yang sebelumnya saya mendampingi anak-anak OSIS di berbagai kegiatan, termasuk Charity Program ke daerah Merapi – kami berkumpul di Sekolah untuk menyambut teman-teman yang berasal dari Jepang, Laos, Vietnam dan Singapore. Seperti biasa, kami memulai aktivitas dengan berkenalan dan kemudian mengadakan Campus Tour.
Setelah perkenalan dan Campus Tour, kami berangkat menuju Taman Mini Indonesia Indah. Sebuah tempat di daerah Jakarta Timur yang cukup representative untuk mengenalkan berbagai budaya yang ada di Indonesia. Kami sempat mengunjungi berbagai anjungan dan menyaksikan film tentang budaya Indonesia di Keong Mas Cinema. Setelah lelah menikmati Taman Mini, kami menikmati makan siang di area sekitar Keong Mas.
Perut sudah kenyang, tenaga kembali pulih dan perjalanan kami lanjutkan ke JCC (Jakarta Convention Centre) dimana Inacraft exchibition diadakan. Beberapa eman sempat bingung karena sejak TMII mereka belum menemukan Money Changer. Setelah beberapa menit mencari di area JCC, akhirnya kami menemukannya. Dan teman-teman bisa segera menyalurkan hasrat belanjanya untuk membeli barang-barang khas Indonesia. Kami membagi tugas untuk mendampingi teman-teman yang berasal dari negara lain sambil mengenalkan beberapa budaya yang ada. Beberapa dari kami juga membantu melakukan penawaran harga barang bagi peserta program yang notabene tidak bisa berbahasa Indonesia. Kegiatan kami di JCC berakhir pada pukul 07.50 dan kami harus kembali ke Sekolah. Beberapa teman peserta langsung dijemput oleh orang tua angkat mereka.
Yang menarik dari kegiatan yang saya alami adalah ketika berkenalan dengan teman-teman yang dari Jepang. Ketika saya mengatakan bahwa saya adalah guru fisika di SMA Global Prestasi, mereka langsung menundukkan badan secara spontan hingga sekitar 900. Sebuah symbol bahwa budaya Jepang sangat menghormati seorang guru. Pun dengan teman yang dari Laos. Saya mengenali dia sebagai orang yang kidal selama trip kami. Saya melihat dia membayar dengan tangan kiri dan bersalaman dengan murid-murid anggota OSIS pun dengan tangan kiri. Tetapi ketika hendak bersalaman dengan saya, dia bergegas mengganti tangannya dengan tangan kanan sambil sedikit membungkukkan badan. Bagi saya. Itu adalah pengalaman yang luar biasa, dimana kepercayaan diri saya sebagai guru bertambah karena merasa sangat dihargai.
Ketika pengalaman langka ini kubagi dengan salah satu teman gereja yang pernah tinggal di sana (waktu menempuh program pasca sarjana dan post doctoralnya), dia lantas menceritakan bahwa itu sudah menjadi kebiasaan bagi mereka. Kebiasaan mereka untuk menghormati orang yang ditemuinya adalah dengan membungkukkan badan. Semakin dalam membungkuk, berarti semakin dihormatilah orang yang ditemui tersebut. “Memang mereka sangat menghormati guru, dosen dan dokter karena itu Negara Jepang menjadi Negara maju”, kata teman saya tersebut. Wah, ternyata Jepang sebagai Negara maju masih sangat menghormati guru, dosen dan dokter. “Lalu bagaimana dengan Indonesia?”, gumulku…..
Langganan:
Postingan (Atom)